Sabtu pagi, 8 Agustus 2026, Aula Kantor Wali Nagari Tanjung Alai mendadak dipenuhi aroma manis yang menggugah selera. Di ruangan tersebut, ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) berkumpul bersama tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas.
Hari itu, mereka tidak sekadar berkumpul biasa, melainkan sedang mengikuti pelatihan interaktif bertajuk “Optimalisasi Nilai Tambah Buah Naga Melalui Inovasi Produk Selai dan Strategi Pemasaran Digital”. Kegiatan ini dirancang untuk mengubah potensi buah naga lokal yang melimpah menjadi produk olahan bernilai jual tinggi.
Melimpah Saat Panen, Bernilai Lebih Lewat Inovasi
Nagari Tanjung Alai dikenal memiliki potensi pertanian buah naga yang luar biasa. Namun, melimpahnya hasil panen sering kali mendatangkan tantangan tersendiri bagi para petani. Saat musim panen raya tiba, pasokan buah segar yang melonjak membuat harga jual di pasar cenderung merosot. Ditambah lagi, buah naga merupakan komoditas yang mudah rusak jika tidak segera dipasarkan.
Melihat kondisi ini, mahasiswa KKN Unand menawarkan solusi praktis berupa diversifikasi produk: mengolah buah naga menjadi selai. Melalui proses pengolahan ini, buah naga tidak hanya memiliki masa simpan yang jauh lebih lama, tetapi juga mengalami peningkatan nilai ekonomi (nilai tambah) yang signifikan dibandingkan hanya dijual dalam bentuk buah segar.
Meracik "Selai Alai"
Pelatihan yang dipandu oleh penanggung jawab kegiatan—Aliaturrahmi, Trie Dinda Putri Sabrina, dan Daniel Tampubolon—berlangsung dengan sangat seru dan interaktif. Ibu-ibu PKK diajak langsung mempraktikkan alur pembuatan selai, mulai dari memilih buah segar, mengupas, menghaluskan daging buah menjadi puree, hingga proses memasak di atas wajan.
Formulasi bahan yang digunakan pun sangat sederhana dan mudah dipraktikkan di rumah:
- Bahan utama: 1,5 kg buah naga merah segar.
- Bahan pendukung: 350 gram gula pasir, 15 gram pektin (pengental alami), dan 3 gram asam sitrat untuk pengatur keasaman sekaligus pengawet alami.
Selama proses memasak, adonan selai terus diaduk perlahan hingga mencapai kekentalan yang pas, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam botol kaca steril yang sudah disiapkan. Agar produk ini memiliki identitas yang kuat dan profesional, lahirlah sebuah merek sederhana namun bermakna: "Selai Alai"—nama yang mudah diingat dan langsung mencerminkan Nagari Tanjung Alai sebagai daerah asalnya.
Strategi Pemasaran Digital untuk Ibu Rumah Tangga
Tidak hanya belajar cara membuat selai, ibu-ibu PKK juga dibekali dengan pemahaman dasar mengenai pengemasan yang menarik (branding) serta pemanfaatan teknologi untuk memperluas pasar.
Mahasiswa KKN Unand berbagi tips praktis mengenai Digital Marketing. Ibu-ibu diajarkan cara memanfaatkan media sosial dan aplikasi komunikasi harian—seperti WhatsApp, Instagram dan TikTok untuk mempromosikan produk dari rumah. Dengan foto produk yang berkualitas serta konten promosi yang kreatif, pemasaran "Selai Alai" diharapkan tidak hanya menjangkau tetangga sekitar, tetapi juga para wisatawan yang berkunjung ke Singkarak.
Melalui program ini, diharapkan ibu-ibu PKK Nagari Tanjung Alai dapat mulai merintis usaha mikro (UMKM) berbasis potensi lokal secara mandiri. Inovasi "Selai Alai" ini menjadi langkah awal yang manis untuk membangun kemandirian ekonomi kreatif dari dapur keluarga.
-Rahmadatul Afdal & Ririn Fauzia Rahma