Dikala matahari mulai mengucapkan kata perpisahan terhadap pemuda-pemudi kurus kerontang yang tengah berjuang menghindar tembakan panas dari beberapa senapan milik tentara kolonial seraya menahan bunyi keras dalam perut, sementara sang penembak tak akan berhenti sebelum si lemah menyerah, terdapat tiga lelaki bergopoh-gopoh sembunyi guna pergi dari tempat perkara kejadian. Mereka tak ingin mati seperti teman mereka lainnya, maka kabur mereka menyelematkan diri sendiri.
Saat itu hutan masih berimbun, masih tertancap baik tanpa ada gangguan bangunan kokoh maupun kekurangan tempat akibat lahan sembarangan, serta berselimut malam gelap berlapis angin dingin sebagai sekawan senasib. Tiga lelaki tersebut akhirnya berhasil melarikan diri dari kejaran peluru panas yang bisa saja siap menembus tengkorak kepala mereka tanpa sepengatahuan mereka pula.
Jantung mereka masih berdegup keras seolah menyamakan kicau jangkrik di sela-sela rumput panjang. Ingatan ketiganya tersambung bagai kabel terlilit rumit tidak bisa dilepaskan, yaitu ingatan terkait pagi tadi. Kala orang-orang bersantai ria menikmati waktu tersisa, namun sayang terganggu sebab bangsa koloni Belanda menghampiri dan mengusik waktu tersebut. Memang makanan sehari-hari, tapi siapa yang tidak terkejut atas kedatangan bangsa asing yang mendadak menembakan peluru panas sebagai gertakan pengusiran. Memang mereka sudah terbiasa, tapi dengan keadaan tidak memegang golok maupun parang, jelas orang-orang waktu itu tersentak lalu meninggal dalam kondisi masih dalam tegangan kejut.
“Lah gilo!” Kata Lelaki Satu.
“Sabana gilo!” Lelaki Dua menyaut.
“Dunia gilo,” tak kalah dengan kedua temannya, Lelaki Tiga kembali mengucap, “paliang indak badan awak masih utuh, dan hiduik awak alun hilang sio-sio.”
Ketiga lelaki tersebut merenung berlatar belakang suara burung hantu. Sangat kencang hingga rasanya seperti suara musik melayu yang sering mereka mainkan kala aktivitas senggang menghinggap. Lagi-lagi mereka terguncang. Bukan karena takut mati ataupun takut dengan bangsa penjajah, melainkan karena mengetahui hanya sisa mereka bertiga yang tersisa dari tempat awal mereka ada. Kini entah apa kabar kampung tempat mereka tinggal sebelumnya, mungkin diklaim tentara Belanda, ditempatkan, atau kenyataan menyedihkan lainnya yaitu dihanguskan yang kemudian akan dibuatkan pemukiman megah milik orang borjuis.
Pemikiran yang itu-itu saja terus menumpuk bagai bangkai otak, hingga membusuk sampai-sampai sang empu otak ingin segera terlelap memejamkan mata akibat lelah yang ditanggung masing-masing tubuh kurus mereka. Maka, bersepakatlah mereka untuk mencari daun kering juga tanah berserakan agar menutupi tubuh mereka selain dari dingin tentunya untuk menyembunyikan onggokan badan mereka yang bisa dengan mudah diketahui rombongan Belanda.
Tidak tau pukul berapa sekarang, tapi yang mereka yakini sekarang adalah bahwa matahari tentunya akan kembali menyapa manusia-manusia di bumi ini dengan terpaan hangat. Namun, sebelum merasakan hangat, mereka harus melewati sejuknya angin Sumatera dan nyamuk pembuat bentol di badan-badan, juga cacing mondar-mondar menggeliat tanpa henti karena menemukan mainan baru untuk disapa. Kegundahan tak nyaman itu segera kalah akibat lelah yang mereka tanggung. Mata mereka akhirnya terlelap, tidak peduli apakah mereka mendapatkan bunga tidur atau teror melalui mimpi, yang penting mereka sejenak beristirahat dari sibuknya dunia perebutan kekuasaan.
Penantian resah itu akhirnya selesai. Cahaya matahari membangunkan mereka dengan cara menyelipkan silau dari celah daun ke mata mereka. Serentak mereka bangun, demi diserang pegal-pegal yang tak kesudahan. Sungguh mereka rindu rumah, tetapi tak bisa melawan keadaan sekarat yang ditempuh meskipun baru membuka mata dan meregangkan badan. Untuk menguap saja mereka segan, tidak enak rasanya di tengah tempat asing seperti ini.
Maka tiga lelaki tersebut bangkit dari tempat istirahat. Saling berpandang-pandang sebelum melihat tempat yang mereka singgah. Kemarin ketika baru pertama menginjakkan kaki di tanah asing ini, mereka tidak peduli bersih atau tidaknya. Yang mereka pedulikan hanya menyelamatkan diri, selain itu terserah mau bagaimana. Beda dengan sekarang, yang mana tempat ini telah tersiram cahaya hingga mereka baru sadar, hanya gundukan tanah berhias rumput panjang, tumbuhan liar, dan pohon tinggi menjulang tanpa arah. Tidak ada rumah gubuk, sebagaimana mereka tinggal sebelumnya.
“Iko di ma?” Lelaki Dua bertanya, walaupun tampak sia-sia sebab tak ada yang menjawab pertanyaannya.
Kemudian Lelaki Satu memberanikan berjalan, “aw!”
Rupanya kaki si Lekaki Satu terluka. Bukan hanya Lelaki Satu, tetapi semua kaki mereka terluka, entah tertusuk duri atau tergores ranting batang pohong yang gugur. Semalam tak dirasa mungkin efek samping terkejut tak kesudahan sepanjang malam, dan kini baru dirasakan perih berdenyut tiada henti. Tapi yang paling parah lukanya adalah lelaki satu. Maka ia pun disuruh beristirahat, dan kedua lelaki lain sambil menahan sakit, mencari tanaman yang sekiranya bisa digunakan dalam pengobatan luka gores.
Lelaki Satu termenung, dan duduk bersender pada pohon. Ketika dua lelaki tersebut berkeliaran entah ke mana, kemudian, ia melihat sekitaran. Perpaduan elok hijau muda dan kuning terang menyatu. Tetapi, pikirnya, cahaya sekuning ini tentunya hangat menyengat kulit. Hangat, tetapi tidak membuat kulit terbakar gosong. Angin bergilir menjemput daun yang hendak berlayar menuju bawah, berlabuh di rambut si lelaki. Ia mendongak, seketika membuat daun yang singgah di kepalanya terjatuh pelan. Hijau muda, berhias terang-berderang sinar surya menusuk mata. Semakin lama ia rasa, semakin enak angin berhembus. Lelaki Satu memutuskan akan menyelami dunia lelap, sekaligus meredakan pegal-pegal yang ia derita.
“Da, bangun. Uda, bangunlah.” Lelaki Satu menggeliat tak ingin dibangun, karena ia mengira suara tersebut berasal dari mimpi, “Uda, bangun. Kami mancari uda sajak patang!”
Setelah betisnya diguncang pelan berkali-kali, akhirnya Lelaki Satu terbangun, diiring rasa perih pada telapak kakinya. Buramnya penglihatan si Lelaki Satu membuatnya harus mengernyitkan kening. Bahu Lelaki Satu pun diguncang pula, seorang perempuan tua dengan keriput di mana-mana dan kulit coklatnya kusam, ditambah baju lusuh, menatap iba Lelaki Satu. Selagi menunggu pandangan Lelaki Satu kembali jelas, si Perempuan Tua berkata, “Marajo? Kamu kah itu, anakkku?”
Benarlah kata si Perempuan Tua, karena Lelaki Satu menganggukkan kepala. Mulutnya ternganga, ia masih bingung apa yang terjadi kini. Ia sebenarnya hanya asal menggangguk, namun ketika penglihatannya semakin jelas, ia kembali menggangguk, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. “Mandeh? Lai masih hiduik Mandeh?”
Marajo pikir, semua sanak saudaranya telah tiada sebab rombongan tentara asing itu, nyatanya raga mereka menghadap dirinya utuh-utuh. Kata Mandeh, kampung mereka memang dibabat habis, masih ada sisa, tetapi untuk mereka, mau dijadikan tempat pemukiman borjuis di Sumatra. Yang selamat di antara malam tragis sebelumnya, berpencar entah ke mana seperti kedua lelaki teman Marajo.
Mandeh memeluk Marajo. Bergetar bahu Mandeh akibat ketakutan berlimpah. Mandeh takut anak-anaknya meninggal mengenaskan, Mandeh takut hanya menemukan potongan-potongan tubuh anak-anaknya, Mandeh takut ditinggal seorang diri. Setelah suaminya hilang ditelan takdir, semakin takutlah Mandeh seorang diri menghadapi keras dunia luar. Mandeh hanya perempuan tua, bertumpu pada kehidupannya sebagai petani sawah. Sehabis memeluk Marajo, ia beralih memeluk Gadis Elok. Elok rupanya menurun dari Mandeh, walaupun bentukannya kotor, tidak menutup kecantikannya khas perempuan Minangkabau.
Anak Mandeh bukan hanya dua orang itu saja, melainkan tujuh. Namun yang Mandeh temui selama perjalanan menyelamatkan dirinya hanya Gadis Elok, disusul Marajo. Lima anaknya tidak tahu ke mana. Mandeh semakin bergetar mengetahui keadaan dipelukan Gadis Elok. “Mandeh takuik, nak.”
Gadis Elok kembali menangis, sisa air mata saat bertemu Mandeh pertama kali tadi masih ada, namun tertimpa lagi oleh air mata yang baru kini. Marajo yang melihat dua perempuannya bersedih, berusaha menenangkan. Ia bangkit, lalu memeluk mereka berdua, tak peduli rasa perih masih berdenyut memperingatkan. Marajo menahan air hangat yang bersemayam di pelupuk matanya, entah karena bersedih atas kesedihan perempuannya atau mengasihani diirnya sendiri yang tidak bisa apa-apa.
“Basobok jo dunsanak juo, kawan?” Anak ibu tersebut melepaskan rangkulan, kemudian menengok ke asal suara. Lelaki Tiga datang tidak sendiri. ia bersama gerombolan orang-orang kampung mereka terdahulu. Semuanya tampak lusuh, sama seperti Mandeh dan Gadis Elok.
Mereka membawa daun sirih yang sudah ditumbuk halus, buat luka gores kata Lelaki Dua. Mandeh yang baru mengetahui hal tersebut cepat-cepat menerima daun siirh dan mengoleskannya di kaki Marajo. Mandeh kembali bersedih, tangannya tetap lancer membalur luka, “Ondeh Marajo, Baa kok indak mu agiah tau nak??”
“Ambo malah baru takana, ambo ado luko, Mak.”
Semua orang duduk di bawah rindang pohon, tidak serta termenung, mereka berbincang-bincang mengenai apa yang terjadi pada malam itu. Di tengah sorak-sorai senjata api kepunyaan tentara asing, masih ada beberapa orang berupaya lolos dari serangan gentar. Sesekali, orang kurus yang masih mempunyai berusaha mengambil parang, juga golok guna menyerang balik, entah dilempar atau dibacok secara dekat. Begitupun dengan nyawa mereka, ada yang bertahan, ada yang binasa. Orang yang binasa kemungkinan gara-gara membacok jarak dekat sehingga senjata api dengan mudah menembus bagian tubuh mereka, di manapun peluru itu menyasar sehingga membuat bolong hangus.
Kebanyakan yang selamat adalah kaum perempuan. Sebab kaum laki-laki mengambil kesempatan menyerang dengan gagah berani mempertunjukkan kejantanan mereka agar tidak dianggap remeh, walaupun kemudian ada yang kabur seperti ketiga lelaki ini. Yang kabur tentunya tidak dianggap remeh, bisa dibilang merupakan bentuk perlindungan diri sendiri.
Lama mereka bercakap, sampai tidak sadar, matahari hendak turun ke bawah bumi dikejar bulan. Ke mana Majo Indo, Tanya Marajo pada Lelaki Tiga karena pikirnya mereka berdua berjalan bersama-sama. Memang mereka awalnya berbareng, bahkan sampai tepi perairan, mereka masih bareng. Namun, Majo Indo memberi usul berpecah, katanya jaga-jaga kalau bertemu orang kampung mereka dulu. Lelaki Tiga sempat menolak, ia takut Majo Indo tidak kembali lagi dengan badan utuh. Akhirnya setelah dibujuk beriring embel-embel janji sanak-saudara, Lelaki Tiga pun merestui pemecahan tersebut. Orang-orang yang mendengar cerita Lelaki Tiga hanya bisa berpasrah.
Usulan Mandeh mencari Majo Indo segera disetujui semua orang yang duduk di sana. Marajo membersihkan kakinya dari daun sirih tumbuk, membuang ampasnya asal-asalan, ia rasa telapak kakinya sudah tidak perih lagi, sudah sembuh.
Mereka semua berdiri, menepuk-nepuk celana belakang karena kotor sisa-sisa tanah bekas meteka duduk barusan. Langit menjadi lampu remang, hari sudah semakin senja, mereka harus berhati-hati sebab bertelanjang telapak kaki. Terompah mereka entah ke mana perginya, tidak tahu mau mencari ke mana, hilang bersama kampung mereka.
Para perempuan saling bergandengan tangan, sedangkan yang lelaki menjaga perempuan dari belakang dan ada pula yang melindungi dari depan. Mereka memakai cara melangkah kucing yang hendak menangkap mangsa, bedanya dengan orang-orang ini hanya terletak pada tujuan metreka melangkah, yaitu agar tidak lecet dan menghindari ranting duri. Sekitaran mereka tidak terlalu ada banyak ancaman. Paling-paling mereka merasakan seperti menginjak ada yang lembek-lembek, kadang pula terlalu keras yang ternyata batu, sesekali melihat ulat nangkring di antara daun-daun segar.
“Awak di tanjung.” Semuanya menegok ke Lelaki Tiga. Ia tampak sangat yakin dengan ucapannya. “Ambo manjalajah daerah ko sabalun basobok jo dunsanak kasadonyo. Ambo tau itu tanjung. Ado aia sakuliliang.”
Tak lama, Gadis Elok terpeleset sehingga teriakannya membikin para burung pergi terbang sembarang arah. Sehabis ia jatuh, gongongan anjing menyusul, seakan-akan membalas teriakan Gadis Elok.
Ah, mungkin salah dengar. Pemikiran mereka berbisik angin lalu.
Guk, guk!
Gonggongan anjing tadi semakin terdengar jelas. Bukan angan bagai angin menusuk telinga.
Grrr…. Guk, guk!
Itu benar-benar suara anjing menggonggong! Bersamaan dengan bentuk anjing utuh dari kejauhan yang semakin lama semakin mendekat ke arah rombongan. Majo Indo, kata mereka serempak.
Ya. Di belakang anjing itu benar-benar Majo Indo. “Ambo bakawan jo anjiang ko. Ambo basobok jo inyo katiko inyo sadang pipis di bawah batang kayu. Ambo indak tahu namo pohon nan inyo pipis, tapi anjiang tu indak baranti manyalak sampai ambo mangatokan a lai dan akhianyo inyo aniang. Jadi, ambo putuihkan untuak maagiah namo pohon tu batang Alai.”
Pohon yang dikencingin si anjing menjadi batas penanda tanjung, Lelaki Tiga yang mengusulkan saran. “Tampek ko jauah talalu laweh untuak manjadi rumah baru, awak harus mambatasi wilayah awak hanyo jangkauan pipis anjiang.”
Kening mereka semua berkerut bingung, tetapi tidak dengan Majo Indo. “Ambo sapandapek jo Bagindo Marajo. Ide rancak!”
Semenjak itu, mereka yang masih hidup berupaya membangun pemukimam kampung baru. Tanjung Alai. Bermula dari tanda kencing di satu pohon, dan Majo Indo berkata apa lagi, tidak berlama-lama nama Alai menjadi nama resmi tidak langsung. Mereka beruntung, Tanjung Alai masih berimbun rumput panjang dan pohon berdaun lebat sehingga orang Belanda tidak hendak untuk mengunjungi Tanjung Alai.
Satu lagi. Mereka suka mangalai (bersantai) di bawah rimbun pohon tempat tiga lelaki bertamu ke Tanjung Alai. Dan itu lah tempat kesukaan dua puluh tujuh orang yang selamat dari malam musibah sebelumnya untuk bermusyawarah
- Queendi Kumala, Dimas Prasetyo, Ririn Fauzia Rahma, dan Rahmadatul Afdal
- Nara Sumber: Yurdam SE (Wali Nagari Tanjung Alai) dan Bapak Ketua KAN