You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue. Default Website Title

Bambu Kuning Penjaga Malam: Langkah KKN Unand untuk Jalanan Tanjung Alai Lebih Aman

Administrator 10 Agustus 2026 Dibaca 5 Kali
Bambu Kuning Penjaga Malam: Langkah KKN Unand untuk Jalanan Tanjung Alai Lebih Aman

Bagi siapa pun yang pernah melintasi jalan utama Nagari Tanjung Alai, panorama alam perbukitan hijau di siang hari memang memanjakan mata. Namun, ceritanya akan sangat berbeda ketika matahari mulai tenggelam. Ketiadaan Penerangan Jalan Umum (PJU) berpadu dengan tikungan tajam dan batas jalan yang langsung berhadapan dengan jurang curam di sepanjang jalur utama ini membuat malam hari terasa menegangkan bagi pengendara, khususnya pendatang baru yang belum hafal medan.

 

Melihat kondisi yang cukup rawan ini, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas bergerak cepat melakukan upaya mitigasi keselamatan. Mulai tanggal 3 hingga 8 Agustus 2026, setiap pukul 14.00 hingga 19.00 WIB, mereka melaksanakan program pembuatan dan pemasangan reflektor jalan alternatif.

 

Sentuhan Kreatif Memanfaatkan Bambu Lokal

 

ref1 

 

Solusi keselamatan tidak selalu harus mahal dan bergantung pada arus listrik. Tim KKN Unand yang digawangi oleh Zakiya Khairizani (Teknik Industri), Dimas Prasetyo (Teknik Industri), Fauzi Try Excel (Teknik Sipil), Fariz Tantowi Yahya (Teknik Elektro) merancang penanda jalan alternatif yang efisien, kokoh, dan bekerja maksimal memantulkan cahaya lampu kendaraan.

 

Menggunakan bahan dasar bambu lokal pilihan, proses pengerjaannya diselesaikan secara bertahap selama total 30 jam kerja sepanjang pekan tersebut:

  1. Pemotongan: Bambu dipotong rapi dengan ukuran masing-masing sekitar 140 cm. Panjang ini dihitung cermat agar 20 cm bagian bawah bisa tertanam kuat ke dalam tanah, sedangkan 120 cm sisanya berdiri tegak sebagai penanda visual yang ideal bagi pengendara.
  2. Pengecatan: Bambu dilapisi dengan cat hitam pekat untuk memberikan tampilan yang seragam sekaligus terlihat kontras dengan semak di tepi jalan.
  3. Pemasangan Stiker: Bagian ujung atas bambu ditempeli stiker reflektif (scotlite) berwarna kuning terang. Warna kuning ini bertugas memantulkan kembali cahaya dari lampu kendaraan secara optimal saat kondisi gelap atau malam hari.

 

Tantangan Menanam 17 "Penjaga" di Sisi Jurang

 

reflektor_(1) 

 

Proses pemasangan di lapangan menjadi ujian fisik tersendiri bagi tim mahasiswa. Sebanyak 17 titik paling rawan di sepanjang tikungan tajam dan batas tepi jurang dipetakan sebagai lokasi penempatan.

 

Pemasangan dilakukan secara manual menggunakan linggis galian. Di lapangan, proses galian sering kali terhambat karena mata linggis membentur bebatuan keras di bawah tanah. Untuk mengatasinya, tim KKN harus telaten memindahkan titik galian beberapa kali.

 

Setelah lubang sedalam 20 cm berhasil dibuat, bambu reflektor segera ditanam. Bagian dasar lubang diberi tumpuan material kerikil untuk kestabilan fondasi, lalu ditutup kembali dengan tanah galian yang kemudian dipadatkan secara bertahap. Menariknya, pada beberapa titik yang memiliki dasar beton keras di bawah permukaan tanah sehingga galian tidak bisa mencapai 20 cm, tim KKN berinisiatif menggunakan campuran semen cor untuk memperkuat cengkeraman bambu agar tidak mudah roboh tertiup angin kencang.

 

Batas Jalan yang Kini Terlihat Terang

 

Setelah 17 unit bambu reflektor kuning-hitam berdiri kokoh menjaga tepi jalan Nagari Tanjung Alai, manfaatnya langsung dirasakan secara nyata oleh warga.

 

Saat malam tiba, deretan stiker kuning di ujung bambu hitam tersebut seolah menyala berurutan menyambut sorotan lampu motor atau mobil yang lewat. Reflektor sederhana ini sukses mempertegas batas jalan dan alur tikungan, membantu siapa pun melintasi jalanan nagari dengan rasa aman, fokus, dan lebih waspada.

 

Sambutan hangat dan apresiasi pun mengalir dari pihak perangkat nagari serta masyarakat sekitar yang merasa terbantu atas kepedulian para mahasiswa. Langkah kecil yang memadukan kreativitas dan pemanfaatan sumber daya lokal ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi pengabdian dapat menghadirkan solusi keselamatan yang bermanfaat bagi sesama.

 

-Rahmadatul Afdal