Nagari Tanjung Alai sangat dikenal dengan hamparan perkebunan buah naga yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakatnya. Namun, di balik melimpahnya buah merah yang segar ini, para petani sering kali dihadapkan pada tumpukan limbah pertanian—mulai dari sisa pangkasan ranting tanaman hingga buah naga busuk yang tidak layak jual. Biasanya, limbah-limbah tersebut dibiarkan begitu saja hingga menumpuk.
Melihat potensi yang terbuang ini, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas hadir menawarkan sebuah solusi ramah lingkungan melalui program kerja Demonstrasi Pembuatan dan Pengaplikasian Pupuk Organik.
10 Juli 2026: Mengumpulkan Bahan-Bahan
Langkah awal program ini dimulai pada Jumat pagi, 10 Juli 2026. Tim KKN Unand menyusuri wilayah nagari untuk mengumpulkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar pemukiman warga.
Bahan yang dikumpulkan bukan zat kimia mahal, melainkan bahan organik sederhana yang kaya manfaat:
- Ranting buah naga sebagai sumber karbon alami.
- Buah naga busuk yang kaya akan kalium dan gula alami.
- Tanaman titonia (paitan) sebagai penyumbang unsur nitrogen.
- Kotoran sapi sebagai penyedia unsur hara utama.
- Larutan aktivator yang diracik dari campuran air cucian beras, gula merah, dan EM4 untuk membangunkan mikroorganisme pengurai.
11 Juli 2026: Dapur Kompos di Jorong Kubang
Keesokan harinya, Sabtu, 11 Juli 2026, halaman sekitar rumah Kepala Jorong Kubang, Bapak Deljon, berubah menjadi tempat praktik yang ramai. Di bawah bimbingan penanggung jawab program, Sagita Aulia dan Nurul Ulfa Aulia, mahasiswa bersama warga mulai meracik pupuk kompos.
Proses pembuatannya ternyata cukup sederhana. Ranting buah naga dan tanaman titonia dicacah kecil-kecil berukuran 2–5 cm agar lebih cepat membusuk. Buah naga yang busuk dihancurkan, lalu semua bahan dicampur merata dengan kotoran sapi. Setelah disiram larutan aktivator secara perlahan, campuran tersebut dimasukkan ke dalam karung di tempat yang teduh untuk memulai proses fermentasi.
Selama masa fermentasi yang berlangsung sekitar dua minggu lebih, adonan kompos ini harus dirawat dengan telaten—yaitu diaduk atau dibalik setiap tiga hari sekali untuk menjaga sirkulasi udara di dalamnya.
26 Juli 2026: Uji Coba Pertama di Kebun Pak Deljon
Setelah melewati masa pematangan, hari yang dinanti pun tiba pada Minggu, 26 Juli 2026. Kompos yang telah matang ditandai dengan warnanya yang berubah menjadi cokelat kehitaman, bertekstur remah mirip tanah, tidak panas, dan tidak lagi berbau busuk.
Kompos hasil karya bersama ini langsung diaplikasikan di kebun milik Pak Deljon (Pak Jorong Kubang). Sebanyak tiga rumpun tanaman buah naga dijadikan sebagai lokasi uji coba, dengan dosis sekitar 4–5 kg kompos per rumpunnya. Cara pemberiannya pun diedukasikan secara hati-hati: ditabur di sekeliling tanaman dan tidak ditempelkan langsung pada pangkal batang agar tanaman terhindar dari jamur atau penyakit.
Langkah Awal Menuju Pertanian Mandiri dan Berkelanjutan
Penggunaan pupuk organik dari limbah buah naga ini tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan nagari dari penumpukan limbah. Lebih dari itu, berdasarkan perhitungan praktis, pengaplikasian kompos ini secara rutin berpotensi menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 10%. Bagi petani, hal ini tentu menjadi kabar baik untuk menekan biaya operasional pertanian secara perlahan.
Meskipun KKN Unand memiliki batas waktu pengabdian yang singkat, harapan besar ditaruh pada pupuk organik ini. Semoga langkah kecil dari Jorong Kubang ini dapat menginspirasi para petani di Tanjung Alai untuk beralih ke praktik pertanian yang lebih sehat, mandiri, dan ramah lingkungan.
-Rahmadatul Afdal & Nurul Ulfa Aulia