SMKN 1 Singkarak saat ini hanya memiliki 58 siswa. Dalam satu kelas, jumlahnya bahkan bisa hanya dua sampai lima orang. Kondisi ini membuat sekolah di Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, harus berjuang dua kali lebih keras: menjaga semangat siswa yang ada sambil terus berusaha menarik minat anak-anak dari SMP.
Di tengah situasi itu, kami mahasiswa KKN Universitas Negeri Padang periode Juli–Agustus 2026 datang dengan tema “Membangun Generasi Cerdas Digital”. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 24 Juli 2026, di sekolah yang beralamat di Jalan Raya Tanjung Alai–Aripan, Nagari Tanjuang Alai. Yang hadir sekitar 20 hingga 30 siswa.
Sebelum memulai, kami sempat berbincang dengan Pak Elpeinosraja, salah satu tenaga kependidikan. Beliau menyambut dengan harapan yang cukup terbuka. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN biasanya mampu menumbuhkan antusiasme siswa. “Antusiasme itu yang kami harapkan bisa dimanfaatkan untuk menarik minat calon siswa baru,” ujarnya.
Materi yang kami sampaikan tidak hanya soal cara memakai teknologi. Kami membahas bagaimana cara melamar pekerjaan sudah berubah. Dulu harus datang membawa berkas, sekarang banyak yang dilakukan melalui LinkedIn dan CV digital. Media sosial juga kami bahas lebih dalam. Kami sempat menanyakan kepada siswa, apakah media sosial mereka selama ini hanya dipakai untuk hiburan, atau ada juga sisi edukasinya.
Dari situ kami menekankan satu hal penting: cerdas digital bukan berarti hanya pintar memakai HP dan internet. Cerdas digital berarti mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang. Karena itu kami juga membahas jejak digital, personal branding, serta risiko yang ikut datang bersama perkembangan teknologi.
Agar suasana tidak satu arah, kami mengajak siswa berdiskusi dan memberikan tantangan berhadiah. Beberapa yang semula diam mulai berani berbicara. Di akhir kegiatan, kami foto bersama.
Harapan kami sederhana. Semoga siswa mendapatkan pemahaman baru tentang teknologi, dan semoga kehadiran kami sedikit membantu SMKN 1 Singkarak yang sedang berjuang di tengah keterbatasan jumlah siswa.SMKN 1 Singkarak saat ini hanya memiliki 58 siswa. Dalam satu kelas, jumlahnya bahkan bisa hanya dua sampai lima orang. Kondisi ini membuat sekolah di Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, harus berjuang dua kali lebih keras: menjaga semangat siswa yang ada sambil terus berusaha menarik minat anak-anak dari SMP.
Di tengah situasi itu, kami mahasiswa KKN Universitas Negeri Padang periode Juli–Agustus 2026 datang dengan tema “Membangun Generasi Cerdas Digital”. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 24 Juli 2026, di sekolah yang beralamat di Jalan Raya Tanjung Alai–Aripan, Nagari Tanjuang Alai. Yang hadir sekitar 20 hingga 30 siswa.
Sebelum memulai, kami sempat berbincang dengan Pak Elpeinosraja, salah satu tenaga kependidikan. Beliau menyambut dengan harapan yang cukup terbuka. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN biasanya mampu menumbuhkan antusiasme siswa. “Antusiasme itu yang kami harapkan bisa dimanfaatkan untuk menarik minat calon siswa baru,” ujarnya.
Materi yang kami sampaikan tidak hanya soal cara memakai teknologi. Kami membahas bagaimana cara melamar pekerjaan sudah berubah. Dulu harus datang membawa berkas, sekarang banyak yang dilakukan melalui LinkedIn dan CV digital. Media sosial juga kami bahas lebih dalam. Kami sempat menanyakan kepada siswa, apakah media sosial mereka selama ini hanya dipakai untuk hiburan, atau ada juga sisi edukasinya.
Dari situ kami menekankan satu hal penting: cerdas digital bukan berarti hanya pintar memakai HP dan internet. Cerdas digital berarti mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang. Karena itu kami juga membahas jejak digital, personal branding, serta risiko yang ikut datang bersama perkembangan teknologi.
Agar suasana tidak satu arah, kami mengajak siswa berdiskusi dan memberikan tantangan berhadiah. Beberapa yang semula diam mulai berani berbicara. Di akhir kegiatan, kami foto bersama.
Harapan kami sederhana. Semoga siswa mendapatkan pemahaman baru tentang teknologi, dan semoga kehadiran kami sedikit membantu SMKN 1 Singkarak yang sedang berjuang di tengah keterbatasan jumlah siswa.