

Berawal dari antusiasme pemuda terhadap sepak bola, Persatuan Olahraga Tanjung Alai Football Club (Porta FC) mengubah hobi menjadi wadah penguatan adat dan hubungan kesukuan melalui turnamen antar suku. Menurut Pak Diki (10/07) selaku sekretaris nagari, inisiatif ini lahir karena dua kenyataan berbarengan, yaitu minat besar generasi muda terhadap sepak bola dan kekhawatiran bahwa banyak pemuda mulai kehilangan pengetahuan soal adat serta identitas suku mereka. Bahkan hubungan kekerabatan seperti pengenalan mamak (paman dari pihak ibu) banyak yang tidak tahu secara jelas. Porta FC berdiri bukan hanya untuk mengorganisir olahraga, tetapi juga untuk “memadupadankan” kegemaran olahraga dengan pengenalan adat istiadat nagari.
Peserta tidak dikelompokkan berdasarkan jorong atau tempat tinggal, melainkan berdasarkan suku. Meski Nagari Tanjung Alai memiliki lima suku, pada turnamen ini mereka disusun menjadi tiga kelompok besar yang berakar pada hubungan kekerabatan:
- Sumpadang.
- Limau Panjang bergabung dengan Panyalai (karena dianggap “kakak-beradik”).
- Limau Singkek bergabung dengan Buah Cupedak.
Sistem ini membuat pemuda untuk menanyakan dan memastikan identitas kesukuan mereka agar bisa bergabung ke tim yang tepat. Selain itu, pembagian tim berdasarkan suku menggugah semangat silaturahmi.
Pertandingan antar suku pertama kali diselenggarakan pada 2021. Waktu itu kegiatan berlangsung selama dua hari penuh dan melibatkan semua lapisan umur, dari murid SD sampai orang dewasa. Kegiatan meliputi pertandingan sepak bola sekaligus ragam perlombaan yang dibuat agar generasi muda saling mengenal satu sama lain dan memperkuat jaringan satu suku.
Agar berjalan efektif, setiap suku menunjuk seorang koordinator. Peran koordinator seperti mendata anggota suku dari semua tingkatan usia, membagi tugas, dan mengatur siapa yang berlaga. Dalam pelaksanaan skala kecil (mis. mendadak saat latihan Jumat), koordinator juga menjadi pengambil keputusan utama tanpa pembentukan kepanitiaan besar. Meski begitu, Porta FC sebagai organisasi tetap memegang tanggung jawab penuh atas kegiatan.
Latihan rutin Porta FC setiap Jumat sering kali dipenuhi pemain, kadang mencapai sekitar 50 orang sehingga permintaan untuk pertandingan spontan terus muncul. Untuk menjaga agar kegiatan tetap teratur, pengurus memilih mengadakan turnamen skala kecil yang bisa disiapkan dalam waktu singkat, biasanya sehari saja.
Lebih dari sekadar pertandingan, inisiatif Porta FC menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi jembatan adat. Turnamen antar suku membuka ruang lintas generasi, di mana anak-anak dituntun mengenali mamak dan paman mereka, remaja belajar sejarah kesukuan, dan orang dewasa kembali berperan sebagai penghubung tradisi. Dalam konteks modernisasi dan migrasi, kegiatan semacam ini membantu mempertahankan tali identitas yang rentan tergerus.
Di Nagari Tanjung Alai, bola menggelinding bukan hanya untuk mencari gol, tetapi juga untuk menemukan kembali persatuan. Melalui Porta FC, generasi muda diberi kesempatan menautkan semangat olahraga dengan pengetahuan adat.
- Queendi Kumala